Tatanan Dunia Baru Versi Pancasila dalam Pidato Bung Karno

Garut, 30 April 2021

Penulis :

Ketua Yayasan Putra Garuda Utama Natanagara

M. R . IVAN RIVANORA S.H

Pada 30 September, 59 tahun silam di Gedung PBB, New York, Amerika Serikat terjadi peristiwa penting yang bukan saja dilakukan oleh Indonesia tetapi juga oleh dunia. Pada hari itu, Presiden pertama Indonesia Ir. Sukarno atau yang biasa akrab dengan Bung Karno yang menyampaikan gagasan di depan para pemimpin-pemimpin negara di PBB. Pidato yang berjudul To Buid The World A New (Membangun Dunia Kembali) dengan durasi sekitar 90 menit itu telah menggemparkan dunia.

Pasalnya, pidato yang disampaikan dengan penuh semangat dan api-api itu menelanjangi sistem atau konsep yang dibangun oleh barat selama berabad-abad serta dampaknya pada keberlangsungan dunia.

Untuk Membangun Dunia Vs Baru Untuk Membangun Dunia Baru

Penyampaian pidato yang diawali dengan mengutip ayat-ayat dalam kitab suci itu mengisyaratkan tentang pentingnya pertemuan antar bangsa dalam bingkai perdamaian dunia. Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) merupakan wadah yang tepat sebagai ajang pertemuan itu yang dihadiri oleh berbagai macam bangsa.

Kitab Suci Islam mengamanatkan sesuatu kepada kita pada saat ini. Qur’an kalimat: 

: “Hai, sekalian manusia, sesungguhnya Aku telah menjadikan kamu sekalian dari seorang lelaki dan seorang perempuan, sehingga kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu sekalian kenal-mengenal satu sama lain. Bahwasanya yang lebih mulia diantara kamu sekalian, yaitu yang lebih taqwa kepadaKu.

”. Dan juga Kitab Injil agama Nasrani beramanat pada kita. “Segala kemuliaan bagi Allah ditempat yang Mahatinggi, dan sejahtera diatas bumi diantara orang yang diperkenanNya

Saya sungguh-sungguh merasa sangat terharu pandangan saya atas Majelis ini. Di sinilah buktinya akan perjuangan perjuangan yang berjalan bergenerasi. Di sinilah buktinya, bahwa pengorbanan dan penderitaan telah diterima. Di sinilah buktinya, bahwa keadilan mulai berlaku, dan bahwa kejahatan besar sudah dapat disingkirkan. Selanjutnya, sambil melepaskan pandangan saya kepada Majelis ini, hati saya diliputi dengan suatu kegirangan yang besar dan hebat. Dengan jelas tampak di mata saya menyingsingnya suatu hari yang baru, dan bahwa matahari kemerdekaan dan emansipasi, matahari yang sudah lama kita impikan, sudah terbit di Asia dan Afrika, ” sebut Bung Karno dukutip dari Buku TUBBAPPI terbitan Departemen Penerangan RI tahun 1960..

Presiden RI Pertama, Ir Soekarno

Untuk Membangun Dunia Vs Baru Untuk Membangun Dunia Baru

Penyampaian pidato yang diawali dengan mengutip ayat-ayat dalam kitab suci itu mengisyaratkan tentang pentingnya pertemuan antar bangsa dalam bingkai perdamaian dunia. Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) merupakan wadah yang tepat sebagai ajang pertemuan itu yang dihadiri oleh berbagai macam bangsa.

Kitab Suci Islam mengamanatkan sesuatu kepada kita pada saat ini. Qur’an kalimat: “Hai, sekalian manusia, sesungguhnya Aku telah menjadikan kamu sekalian dari seorang lelaki dan seorang perempuan, sehingga kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu sekalian kenal-mengenal satu sama lain. Bahwasanya yang lebih mulia diantara kamu sekalian, yaitu yang lebih taqwa kepadaKu ”. Dan juga Kitab Injil agama Nasrani beramanat pada kita. “Segala kemuliaan bagi Allah ditempat yang Mahatinggi, dan sejahtera diatas bumi diantara orang orang.

Saya sungguh-sungguh merasa sangat terharu pandangan saya atas Majelis ini. Di sinilah buktinya akan perjuangan perjuangan yang berjalan bergenerasi. Di sinilah buktinya, bahwa pengorbanan dan penderitaan telah diterima. Di sinilah buktinya, bahwa keadilan mulai berlaku, dan bahwa kejahatan besar sudah dapat disingkirkan. Selanjutnya, sambil melepaskan pandangan saya kepada Majelis ini, hati saya diliputi dengan suatu kegirangan yang besar dan hebat. Dengan jelas tampak di mata saya menyingsingnya suatu hari yang baru, dan bahwa matahari kemerdekaan dan emansipasi, matahari yang sudah lama kita impikan, sudah terbit di Asia dan Afrika, ” 

Paragraf awal pidato tersebut menerangkan dalam Hukum Tuhan yang terdiri dari berbangsa-bangsa dan bersuku-suku kemudian yang membedakan kemuliaan dari setiap manusia hanya ketakwaannya kepada Tuhan. Sehingga dalam perjalanan sejarah bangsa-bangsa di dunia sudah menjadi sunatullah jika ada bangsa yang membuat kerusakan dan ada yang membuat perbaikan. Keduanya akan senantiasa berjalan bersamaan sampai akhir zaman.

Namun Indonesia dengan konsepsi Pancasila-nya memberikan pandangan dan arah kepada dunia yang diawali dengan pelaksanaan Konferensi Asia Afrika di Bandung tahun 1955. Di mana yang melaksanakan itu menghasilkan kemerdekaan bagi bangsa-bangsa Asia dan Afrika yang kemudian berubah sebagai matahari yang sudah lama diimpikan.

30 September 1960, Pidato Bung Karno Mengguncang Dunia di PBB

Presiden RI Pertama, Ir Soekarno

Pasalnya, isi pidato yang disampaikan dengan penuh semangat dan berapi-api itu menelanjangi habis-habisan sistem atau konsep yang dibangun oleh barat selama berabad-abad serta dampaknya pada keberlangsungan dunia.

To Build The World A New Vs To Build a New World

Penyampaian pidato yang diawali dengan mengutip ayat-ayat dalam kitab suci itu mengisyaratkan mengenai arti pentingnya pertemuan antar bangsa dalam bingkai perdamaian dunia. Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) merupakan wadah yang tepat sebagai ajang pertemuan itu yang dihadiri oleh berbagai macam bangsa.

Kitab Suci Islam mengamanatkan sesuatu kepada kita pada saat ini. Qur’an berkata: “Hai, sekalian manusia, sesungguhnya Aku telah menjadikan kamu sekalian dari seorang lelaki dan seorang perempuan, sehingga kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu sekalian kenal-mengenal satu sama lain. Bahwasanya yang lebih mulia diantara kamu sekalian, ialah yang lebih taqwa kepadaKu”. Dan juga Kitab Injil agama Nasrani beramanat pada kita. “Segala kemuliaan bagi Allah ditempat yang Mahatinggi, dan sejahtera diatas bumi diantara orang yang diperkenanNya”.

Saya sungguh-sungguh merasa sangat terharu pandangan saya atas Majelis ini. Di sinilah buktinya akan perjuangan perjuangan yang berjalan bergenerasi. Di sinilah buktinya, bahwa pengorbanan dan penderitaan telah diterima. Di sinilah buktinya, bahwa keadilan mulai berlaku, dan bahwa kejahatan besar sudah dapat disingkirkan. Selanjutnya, sambil melepaskan pandangan saya kepada Majelis ini, hati saya diliputi dengan suatu kegirangan yang besar dan hebat. Dengan jelas tampak di mata saya menyingsingnya suatu hari yang baru, dan bahwa matahari kemerdekaan dan emansipasi, matahari yang sudah lama kita impikan, sudah terbit di Asia dan Afrika, ” sebut Bung Karno dukutip dari Buku TUBBAPPI terbitan Departemen Penerangan RI tahun 1960.

Paragraf awal pidato tersebut menerangkan dalam Hukum Tuhan yang terdiri dari berbangsa-bangsa dan bersuku-suku kemudian yang membedakan kemuliaan dari setiap manusia hanya ketakwaannya kepada Tuhan. Sehingga dalam perjalanan sejarah bangsa-bangsa di dunia sudah menjadi sunatullah jika ada bangsa yang membuat kerusakan dan ada yang membuat perbaikan. Keduanya akan senantiasa berjalan bersamaan sampai akhir zaman.

Namun Indonesia dengan konsepsi Pancasila-nya memberikan pandangan dan arah kepada dunia yang diawali dengan pelaksanaan Konferensi Asia Afrika di Bandung tahun 1955. Di mana yang melaksanakan itu menghasilkan kemerdekaan bagi bangsa-bangsa Asia dan Afrika yang kemudian berubah sebagai matahari yang sudah lama diimpikan.

Tidak diketahui Pancasila pada Dunia

Sejak abad 15, bangsa – bangsa barat dengan semboyan Gold, Glory, dan Gospel (3G) telah mengarungi samudera untuk mencari daerah-daerah penghasil rempah-rempah. Alih-alih ingin berdagang, akhirnya mereka menguasai satu per satu hingga menanamkan suatu sistem atau konsepsi yang membuat ketidakteraturan dunia bahkan sampai dengan hari ini. Dengan konsepsi yang ditanamkan itu, pesan negara yang kuat dan perang ekonomi menjadi tujuan akhir untuk penguasaan dunia di bawah satu kendali kaum yang sudah lama terusir dari kampung halamannya.

Presiden RI Pertama, Ir Soekarno

Pada 30 September, 59 tahun silam di Gedung PBB, New York, Amerika Serikat terjadi peristiwa penting yang bukan saja dilakukan oleh Indonesia tetapi juga oleh dunia. Pada hari itu, Presiden pertama Indonesia Ir. Sukarno atau yang biasa akrab dengan Bung Karno yang menyampaikan gagasan di depan para pemimpin-pemimpin negara di PBB. Pidato yang berjudul To Buid The World A New (Membangun Dunia Kembali) dengan durasi sekitar 90 menit itu telah menggemparkan dunia.

Pasalnya, pidato yang disampaikan dengan penuh semangat dan api-api itu menelanjangi sistem atau konsep yang dibangun oleh barat selama berabad-abad serta dampaknya pada keberlangsungan dunia.

Untuk Membangun Dunia Vs Baru Untuk Membangun Dunia Baru

Penyampaian pidato yang diawali dengan mengutip ayat-ayat dalam kitab suci itu mengisyaratkan tentang pentingnya pertemuan antar bangsa dalam bingkai perdamaian dunia. Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) merupakan wadah yang tepat sebagai ajang pertemuan itu yang dihadiri oleh berbagai macam bangsa.

Kitab Suci Islam mengamanatkan sesuatu kepada kita pada saat ini. Qur’an kalimat: “Hai, sekalian manusia, sesungguhnya Aku telah menjadikan kamu sekalian dari seorang lelaki dan seorang perempuan, sehingga kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu sekalian kenal-mengenal satu sama lain. Bahwasanya yang lebih mulia diantara kamu sekalian, yaitu yang lebih taqwa kepadaKu ”. Dan juga Kitab Injil agama Nasrani beramanat pada kita. “Segala kemuliaan bagi Allah ditempat yang Mahatinggi, dan sejahtera diatas bumi diantara orang yang diperkenanNya”.null

Saya sungguh-sungguh merasa sangat terharu pandangan saya atas Majelis ini. Di sinilah buktinya akan perjuangan perjuangan yang berjalan bergenerasi. Di sinilah buktinya, bahwa pengorbanan dan penderitaan telah diterima. Di sinilah buktinya, bahwa keadilan mulai berlaku, dan bahwa kejahatan besar sudah dapat disingkirkan. Selanjutnya, sambil melepaskan pandangan saya kepada Majelis ini, hati saya diliputi dengan suatu kegirangan yang besar dan hebat. Dengan jelas tampak di mata saya menyingsingnya suatu hari yang baru, dan bahwa matahari kemerdekaan dan emansipasi, matahari yang sudah lama kita impikan, sudah terbit di Asia dan Afrika, ” sebut Bung Karno dukutip dari Buku TUBBAPPI terbitan Departemen Penerangan RI tahun 1960.

Paragraf awal pidato tersebut menerangkan dalam Hukum Tuhan yang terdiri dari berbangsa-bangsa dan bersuku-suku kemudian yang membedakan kemuliaan dari setiap manusia hanya ketakwaannya kepada Tuhan. Sehingga dalam perjalanan sejarah bangsa-bangsa di dunia sudah menjadi sunatullah jika ada bangsa yang membuat kerusakan dan ada yang membuat perbaikan. Keduanya akan senantiasa berjalan bersamaan sampai akhir zaman.

Namun Indonesia dengan konsepsi Pancasila-nya memberikan pandangan dan arah kepada dunia yang diawali dengan pelaksanaan Konferensi Asia Afrika di Bandung tahun 1955. Di mana yang melaksanakan itu menghasilkan kemerdekaan bagi bangsa-bangsa Asia dan Afrika yang kemudian berubah sebagai matahari yang sudah lama diimpikan.

Tidak diketahui Pancasila pada Dunia

Sejak abad 15, bangsa – bangsa barat dengan semboyan Gold, Glory, dan Gospel (3G) telah mengarungi samudera untuk mencari daerah-daerah penghasil rempah-rempah. Alih-alih ingin berdagang, akhirnya mereka menguasai satu per satu hingga menanamkan suatu sistem atau konsepsi yang membuat ketidakteraturan dunia bahkan sampai dengan hari ini. Dengan konsepsi yang ditanamkan itu, pesan negara yang kuat dan perang ekonomi menjadi tujuan akhir untuk penguasaan dunia di bawah satu kendali kaum yang sudah lama terusir dari kampung halamannya.

Sistem bernama  To Build The New World  atau To Build The New Order sudah didengungkan selama berabad-abad yang kelak akan membawa titik nadir kehancuran bagi kehidupan manusia. Pada kesempatan 30 Sepetember 1960 itu, Sukarno yang merupakan jebolan perkumpulan Gang Peneleh (Rumah HOS Tjokroaminoto) di Surabaya sudah membaca konstelasi tersebut saat usianya masih relatif muda. Ketika tampil menjadi pemimpin bangsa Indonesia, Sukarno bersama para tokoh atau pemuka bangsa Indonesia mulai menelurkan gagasan untuk melakukan kontra terhadap konsepsi tersebut.

Alhasil, pada tahun 1945, konsepsi yang bernama Pancasila telah dimufakati oleh para pemuka-pemuka bangsa Indonesia dalam sidang BPUPKI dan PPKI menjelang kemerdekaan Indonesia pada 17 Agustus 1945. Pancasila yang tertuang kemudian di dalam Pembukaan UUD 1945 menjadi dasar terbentuknya Negara kesatuan Republik Indonesia (NKRI ) pada 18 Agustus 1945. Meskipun di dalam negeri, sejak awal kemerdekaan konsepsi tersebut cenderung ditanggalkan bahkan sempat berganti konstitusi pada tahun 1949 dan 1950, namun di kancah internasional tetap dijadikan simbol perlawanan kepada kolonialisme dan imperialisme bagi bangsa-bangsa Asia dan Afrika.

Kepercayaan diri Sukarno semakin meningkat pasca dikeluarkannya Dekrit Presiden pada 5 Juli 1959 yang berisikan kembali ke UUD 1945. Dalam kurun waktu tepat setelah dikeluarkannya dekrit, Sidang Umum PBB ke XV di New York tanggal 30 September 1960 segera dilaksanakan. Akhirnya Sukarno yang didaulat pula sebagai juru bicara dari negara-negara seperti Yugoslavia, Ghana, India, Persatuan Arab, dan Birma menjadi orator di hadapan pimpinan majelis Sidang Umum PBB.

Momentum dasar yang dijadikan kesempatan untuk melawan konspirasi negara barat yang telah menguasai dunia dan membawa ketidakteraturan negara-negara di dunia dengan suasana konflik yang diciptakannya. Konflik yang berkepanjangan dari masa Perang Dunia I, Perang Dunia II, kemudian memasuki era Perang Dingin, yang sebenarnya hanyalah perang di antara mereka yang memperebutkan lahan ekonomi dan menanamkan pengaruh untuk ikut blok-blok yang bertikai.

RumahJudul

Oleh Redaksi -30 September 2019034678null

Presiden RI Pertama, Ir Soekarno

Pasalnya, pidato yang disampaikan dengan penuh semangat dan api-api itu menelanjangi sistem atau konsep yang dibangun oleh barat selama berabad-abad serta dampaknya pada keberlangsungan dunia.

Untuk Membangun Dunia Vs Baru Untuk Membangun Dunia Baru

Penyampaian pidato yang diawali dengan mengutip ayat-ayat dalam kitab suci itu mengisyaratkan tentang pentingnya pertemuan antar bangsa dalam bingkai perdamaian dunia. Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) merupakan wadah yang tepat sebagai ajang pertemuan itu yang dihadiri oleh berbagai macam bangsa.

Kitab Suci Islam mengamanatkan sesuatu kepada kita pada saat ini. Qur’an kalimat: “Hai, sekalian manusia, sesungguhnya Aku telah menjadikan kamu sekalian dari seorang lelaki dan seorang perempuan, sehingga kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu sekalian kenal-mengenal satu sama lain. Bahwasanya yang lebih mulia diantara kamu sekalian, yaitu yang lebih taqwa kepadaKu ”. Dan juga Kitab Injil agama Nasrani beramanat pada kita. “Segala kemuliaan bagi Allah ditempat yang Mahatinggi, dan sejahtera diatas bumi diantara orang yang diperkenanNya”.

Saya sungguh-sungguh merasa sangat terharu pandangan saya atas Majelis ini. Di sinilah buktinya akan perjuangan perjuangan yang berjalan bergenerasi. Di sinilah buktinya, bahwa pengorbanan dan penderitaan telah diterima. Di sinilah buktinya, bahwa keadilan mulai berlaku, dan bahwa kejahatan besar sudah dapat disingkirkan. Selanjutnya, sambil melepaskan pandangan saya kepada Majelis ini, hati saya diliputi dengan suatu kegirangan yang besar dan hebat. Dengan jelas tampak di mata saya menyingsingnya suatu hari yang baru, dan bahwa matahari kemerdekaan dan emansipasi, matahari yang sudah lama kita impikan, sudah terbit di Asia dan Afrika, ” sebut Bung Karno dukutip dari Buku TUBBAPPI terbitan Departemen Penerangan RI tahun 1960.

Paragraf awal pidato tersebut menerangkan dalam Hukum Tuhan yang terdiri dari berbangsa-bangsa dan bersuku-suku kemudian yang membedakan kemuliaan dari setiap manusia hanya ketakwaannya kepada Tuhan. Sehingga dalam perjalanan sejarah bangsa-bangsa di dunia sudah menjadi sunatullah jika ada bangsa yang membuat kerusakan dan ada yang membuat perbaikan. Keduanya akan senantiasa berjalan bersamaan sampai akhir zaman.

Namun Indonesia dengan konsepsi Pancasila-nya memberikan pandangan dan arah kepada dunia yang diawali dengan pelaksanaan Konferensi Asia Afrika di Bandung tahun 1955. Di mana yang melaksanakan itu menghasilkan kemerdekaan bagi bangsa-bangsa Asia dan Afrika yang kemudian berubah sebagai matahari yang sudah lama diimpikan.

Tidak diketahui Pancasila pada Dunia

Sejak abad 15, bangsa – bangsa barat dengan semboyan Gold, Glory, dan Gospel (3G) telah mengarungi samudera untuk mencari daerah-daerah penghasil rempah-rempah. Alih-alih ingin berdagang, akhirnya mereka menguasai satu per satu hingga menanamkan suatu sistem atau konsepsi yang membuat ketidakteraturan dunia bahkan sampai dengan hari ini. Dengan konsepsi yang ditanamkan itu, pesan negara yang kuat dan perang ekonomi menjadi tujuan akhir untuk penguasaan dunia di bawah satu kendali kaum yang sudah lama terusir dari kampung halamannya.

Sistem bernama  To Build The New World  atau To Build The New Order sudah didengungkan selama berabad-abad yang kelak akan membawa titik nadir kehancuran bagi kehidupan manusia. Pada kesempatan 30 Sepetember 1960 itu, Sukarno yang merupakan jebolan perkumpulan Gang Peneleh (Rumah HOS Tjokroaminoto) di Surabaya sudah membaca konstelasi tersebut saat usianya masih relatif muda. Ketika tampil menjadi pemimpin bangsa Indonesia, Sukarno bersama para tokoh atau pemuka bangsa Indonesia mulai menelurkan gagasan untuk melakukan kontra terhadap konsepsi tersebut.https://75f435c5eee62841bae564476d4f40a0.safeframe.googlesyndication.com/safeframe/1-0-38/html/container.html

Alhasil, pada tahun 1945, konsepsi yang bernama Pancasila telah dimufakati oleh para pemuka-pemuka bangsa Indonesia dalam sidang BPUPKI dan PPKI menjelang kemerdekaan Indonesia pada 17 Agustus 1945. Pancasila yang tertuang kemudian di dalam Pembukaan UUD 1945 menjadi dasar terbentuknya Negara kesatuan Republik Indonesia (NKRI ) pada 18 Agustus 1945. Meskipun di dalam negeri, sejak awal kemerdekaan konsepsi tersebut cenderung ditanggalkan bahkan sempat berganti konstitusi pada tahun 1949 dan 1950, namun di kancah internasional tetap dijadikan simbol perlawanan kepada kolonialisme dan imperialisme bagi bangsa-bangsa Asia dan Afrika.

Kepercayaan diri Sukarno semakin meningkat pasca dikeluarkannya Dekrit Presiden pada 5 Juli 1959 yang berisikan kembali ke UUD 1945. Dalam kurun waktu tepat setelah dikeluarkannya dekrit, Sidang Umum PBB ke XV di New York tanggal 30 September 1960 segera dilaksanakan. Akhirnya Sukarno yang didaulat pula sebagai juru bicara dari negara-negara seperti Yugoslavia, Ghana, India, Persatuan Arab, dan Birma menjadi orator di hadapan pimpinan majelis Sidang Umum PBB.

Momentum dasar yang dijadikan kesempatan untuk melawan konspirasi negara barat yang telah menguasai dunia dan membawa ketidakteraturan negara-negara di dunia dengan suasana konflik yang diciptakannya. Konflik yang berkepanjangan dari masa Perang Dunia I, Perang Dunia II, kemudian memasuki era Perang Dingin, yang sebenarnya hanyalah perang di antara mereka yang memperebutkan lahan ekonomi dan menanamkan pengaruh untuk ikut blok-blok yang bertikai.

Dengan kondisi demikian, pandangan Soekarno untuk menyerukan perdamaian dunia yang tertuang dalam Pembukaan UUD 1945 menjadi tawaran yang dibalut dengan istilah Membangun Dunia Baru. Artinya, dengan istilah itu maka ada suatu rumusan bilamana dunia ingin damai maka hanya Pancasila yang dapat dijadikan konsepsi bukan konsepsi seperti Kolonialisme dan Imperialisme beserta turunannya yang sudah usang, serta telah terbukti terus membuat kerusakan di muka bumi selama berabad-abad. Oleh karena itu, Pancasila menjadi suatu kebenaran universal yang dapat diterima oleh setiap bangsa.

Diterbitkan oleh BRIGADE ONLINE

Brigade Online adalah Media Informasi IPOLEKSOSBUDHANKAM . !!!

Tinggalkan komentar

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai